BAPPEDA KABUPATEN TEMANGGUNG

BAPPEDA Kabupaten Temanggung
Satu Perencanaan Untuk Semua
Tentrem Marem Gandem
One Plan For All
PROGRAM PEMERINTAH KABUPATEN TEMANGGUNG DALAM PENATAAN DAN PELESTARIAN KOTA PUSAKA

PROGRAM PEMERINTAH KABUPATEN TEMANGGUNG DALAM PENATAAN DAN PELESTARIAN KOTA PUSAKA

SOSIAL DAN BUDAYA Jumat , 05 Agustus 2016

Upaya pemerintah Kabupaten Temanggung dalam mendukung Program Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka tertuang dalam RPJMD Kabupaten Temanggung Tahun 2013-2018 dengan visi “Terwujudnya Temanggung Sebagai Daerah Agraris Berwawasan Lingkungan, Memiliki Masyarakat Agamis, Berbudaya, Dan Sejahtera Dengan Pemerintahan Yang Bersih”. Upaya penataan dan pelestarian kota pusaka dalam RPJMD Kabupaten Temanggung Tahun 2014 – 2018 tertuang dalam Misi ke-2 yaitu Mewujudkan Masyarakat Perdesaan dan Perkotaan yang Agamis, Berbudaya, dan Sejahtera. Adapun sasaran, strategi dan kebijakan dari Misi ke-2 selengkapnya adalah sebagai berikut:

1. Sasaran • Meningkatnya Penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial ( PMKS ) • Meningkatkan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial • Meningkatnya Kesejahteraan Rumah Tangga Sasaran • Meningkatnya Pencegahan, Penanggulangan, dan Penanganan Bencana • Meningkatnya Kualitas dan Produktifitas Tenaga Kerja • Meningkatknya Kesempatan Kerja dan Menurunkan Tingkat Pengangguran • Meningkatnya Perlindungan Tenaga Kerja dan Pengembangan Lembaga • Meningkatnya Keberdayaan Masyarakat Perdesaan dan Perkotaan • Meningkatnya Kualitas Penyelenggaraan Transmigrasi • Meningkatnya Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Perempuan, dan Perlindungan Anak • Meningkatknya kesetaraan gender • Meningkatnya Pembinaan Kepemudaan dan Olahraga • Meningkatnya Sarana dan Prasarana Kepemudaan dan Olahraga • Meningkatnya Prestasi Pemuda dan Atlit Olahraga • Meningkatnya Kualitas Iman dan Taqwa • Meningkatnya Kualitas Sarana dan Prasarana Keagamaan • Meningkatnya Pengembangan dan Pelestarian Kebudayaan Daerah • Meningkatnya Promosi Seni dan Cagar Budaya • Meningkatnya Sarana Budaya dan Kebudayaan • Meningkatnya Kualitas Kehidupan Politik dan Wawasan Kebangsaan • Meningkatnya Ketertiban dan Keamanan

2. Strategi • Peningkatan Penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) • Peningkatan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial • Peningkatan Kesejahteraan Rumah Tangga Sasaran • Peningkatan Pencegahan, Penanggulangan, dan Penanganan Bencana • Peningkatan Kualitas dan Produktifitas Tenaga Kerja • Peningkatan Kesempatan Kerja dan Menurunkan Tingkat Pengangguran • Peningkatan Perlindungan Tenaga Kerja dan Pengembangan Lembaga • Peningkatan kualitas dan kuantitas pemberdayaan masyarakat • Peningkatan Kualitas Penyelenggaraan Transmigrasi • Peningkatan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Perempuan, dan Perlindungan Anak • Peningkatan kesetaraan gender • Peningkatan Kualitas Kabupaten Layak Anak • Peningkatan Pembinaan Kepemudaan dan Olahraga • Peningkatan Sarana dan Prasarana Kepemudaan dan Olahraga • Peningkatan Prestasi Pemuda dan Atlit Olahraga • Peningkatan Kualitas Iman dan Taqwa • Peningkatan Kualitas Sarana dan Prasarana Keagamaan • Peningkatan Pengembangan dan Pelestarian Kebudayaan Daerah • Peningkatan Promosi Seni dan Cagar Budaya • Peningkatan Sarana Budaya dan Kebudayaan • Peningkatan Kualitas Kehidupan Politik dan Wawasan Kebangsaan • Peningkatan Ketertiban dan Keamanan

3. Kebijakan • Meningkatkan Penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial ( PMKS ) • Meningkatkan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial • Meningkatkan Kesejahteraan Rumah Tangga Sasaran • Meningkatkan Pencegahan, Penanggulangan, dan Penanganan Bencana • Meningkatkan Kualitas dan Produktifitas Tenaga Kerja • Meningkatkan Kesempatan Kerja dan Menurunkan Tingkat Pengangguran • Meningkatkan Perlindungan Tenaga Kerja dan Pengembangan Lembaga • Meningkatkan kualitas dan kuantitas pemberdayaan masyarakat • Meningkatkan Kualitas Penyelenggaraan Transmigrasi • Meningkatkan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Perempuan, dan Perlindungan Anak • Meningkatkan kesetaraan gender • Meningkatkan Kualitas Kabupaten Layak Anak • Meningkatkan Pembinaan Kepemudaan dan Olahraga • Meningkatkan Sarana dan Prasarana Kepemudaan dan Olahraga • Meningkatkan Prestasi Pemuda dan Atlit Olahraga • Meningkatkan Kualitas Iman dan Taqwa • Meningkatkan Kualitas Sarana dan Prasarana Keagamaan • Meningkatan Pengembangan dan Pelestarian Kebudayaan Daerah • Meningkatkan Promosi Seni dan Cagar Budaya • Meningkatkan Sarana Budaya dan Kebudayaan • Meningkatkan Kualitas Kehidupan Politik dan Wawasan Kebangsaan • Meningkatkan Ketertiban dan Keamanan

Selain tertuang dalam RPJMD, tahun 2013 ini Kabupaten Temanggung juga sedang menyusun Peraturan Bupati Temanggung tentang Pedoman Pelestarian dan Pengembangan Adat Istiadat dan Nilai Sosial Budaya Masyarakat Kabupaten Temanggung.

PRIORITAS PENATAAN DAN PELESTARIAN KOTA PUSAKA (P3KP) KABUPATEN TEMANGGUNG

Prioritas Penataan dan Pelestarian terutama di Kota Parakan diarahkan pada dua poros utama, yaitu Poros BT (Barat-Timur) dan Poros SU (Selatan-Utara)

A. Poros Barat-Timur

Poros ini memetakan kekayaan pusaka budaya yang terangkai membentuk kota Parakan sekarang. Pada dasarnya Pusaka 1 dan Pusaka 2 mewakili masa Kadipaten Menoreh (sampai 1825), lalu Pusaka 3 dan Pusaka 4 memperlihatkan dinamika paruh Barat kota Parakan sejak 1830. Demikian juga Pusaka 5 dan Pusaka 6 menampilkan wajah paruh Timur kota Parakan sejak akhir Perang Jawa (1830). Paangan terakhir, Pusaka 7 dan Pusaka 8 merupakan peninggalan masa prakemerdekaan, dari masa akhir abad ke-19, yaitu Kawedanan (sekitar 1880) dan Setasiun Kereta Api (awal abad ke-20). Poros ini dapat menjadi pedoman untuk penyusunan perjalanan pusaka (heritage trail) untuk memahami kota Parakan secara menyeluruh.

A.1. Mesjid Baitturakhim Jetis Mesjid ini satu-satunya bangunan peninggalan masa Kadipaten Menoreh (1817-1825), mungkin sekali bahkan sudah ada sebelumnya jika Bupati Siti Bumi sebelumnya berada di tempat ini juga. Meskipun mesjid ini telah mengalami peremajaan empat tahun yang lalu, tetapi bentuknya tetap dipertahankan seperti semula. Bisa jadi mesjid ini merupakan wakil bangunan tertua di kawasan Kedu.

A.2. Alun-alun Kadipaten/ Gerbang Pasar Legi Pada awal Perang Jawa, Kadipaten Menoreh dibumihangus, hanya mesjidnya yang tersisa. Selama satu abad kawasan ini terbengkalai dan baru pada tahun 1925 dibangun menjadi pasar yang baru untuk menggantikan pasar lama di seberang Kompleks Kawedanan yang telah terlalu pasar dan mengganggu terminal di dekatnya yang semakin ramai. Saat ini berkenaan dengan pembangunan Pasar Legi baru, maka yang tersisa hanyalah bangunan Gerbang Pasar Legi ini sebagai bagian ingatan bersama (collective memory) masyarakat Parakan.

A.3. Mesjid Jamik Al-Barokah Bamburuncing Mesjid terbesar dan terpenting, sekaligus pusat kehidupan sosial religius di kawasan Parakan. Mesjid ini juga ekspresi keIslaman masyarakat kampung Kauman yang berawal dari pengikut Pangeran Dipanegara yang tidak mau kembali ke kota kerajaan, memilih menjadi rakyat biasa di pedalaman. Di masa revolusi kemerdekaan, mesjid ini adalah pusat dan markas Laskar Hizbullah dan Barisan Muslim Temanggung yang mendukung republik baru. Lebih penting lagi ketika menjadi pusat penyepuhan bamburuncing yang mengobarkan semangat ratusan ribu pemuda dari berbagai penjuru tanahair untuk melawan penjajah. Bangunan mesjid telah mengalami beberapa perubahan dan perluasan sehingga bentuknya yang sekarang.

A.4. Museum K.H. Subuki K.H. Subuki adalah tokoh masyarakat yang dihormati dan disegani, sehingga didaulat menjadi ketua badan perjuangan di masa awal revolusi kemerdekaan. Beliau bahkan kemudian dipercaya beberapa tokoh nasional untuk mengepalai proses penyepuhan bamburuncing untuk mengobarkan semangat para pemuda pejuang. Bermula hanya untuk masyarakat Parakan-Temanggung saja, berita mengenai kegiatan ini menyebar ke segala penjuru sehingga ratusan ribu pemuda membanjiri Parakan sejak akhir tahun 1945 sampai akhir tahun 1948.

Saat ini beliau sedang dalam proses pengusulan untuk mendapatkan gelar Pahlawan Nasional. Bersamaan dengan itu rumah tempat tinggal beliau di kampung Karangtengah juga mulai disiapkan untuk menjadi Museum K.H. Subuki untuk mengenang keteladanan beliau serta benda dan memorabilia mengenai beliau.

A.5. Pecinan Parakan Pecinan Parakan terbentuk sepanjang jalan antar wilayah yang membentang dari Desa Wanutengah sampai Ngadirejo, sekarang penggalan utamanya dikenal sebagai Jl. Brigjen. Katamso, dan mengikuti jalan penghubung antara Jetis dan Banjarsari. Pusat dari desa yang disebut terakhir ini adalah Kademangan (penguasa tertinggi kedua setelah Adipati) yang berdiam di sisi Barat bekas Bioskop Winsu sekarang. Di sekeliling kawasan inilah masyarakat Cina berpusat, mendekati pasar dan pemimpin mereka (Luitenant der Chineezen) yang berdiam tepat di belakang Kademangan. Di kawasan ini masih terdapat beberapa bangunan tua yang patut dilestarikan karena mewakili jaman itu. Misalnya rumah keluarga Tjiong, rumah keluarga Siek yang sekarang menjadi gudang, bekas rumah keluarga Siek yang sekarang telah dipugar menjadi Prasada Mandhala Dharma, dan beberapa yang lain.

Kawasan Pecinan Parakan istimewa sekali karena walaupun sekilas menampilkan suasana Cina, tetapi pada dasarnya mengikuti (dengan ketat) pola perkampungan asli pedesaan Sindoro-Sumbing! Bahkan susunan rumahpun banyak mengikuti pola Jawa. Perpaduan seperti ini jarang ditemui di kota lain, karena biasanya Pecinan benar-benar di'kurung' peraturan pemisahan oleh penjajah.

A.6. Kelenteng Hok Tik Tong Kelenteng ini istimewa karena menjadi kelenteng tertua di pedalaman Pulau Jawa. Kelenteng ini dibangun oleh komunitas Pecinan pada tahun 1842, hanya setahun lebih muda dari kelenteng tertua di Singapura. Dalam perjalanannya kelenteng ini telah mengalami perbaikan dan penambahan beberapa kali. Catatan mengenai hal ini masih dapat diikuti berkat adanya prasasti di papan kayu yang masih dipertahankan sampai sekarang.

Dari keletakannya, nampa jelas bahwa kelenteng ini dibangun sebagai 'pelindung' kawasan Pecinan yang berpusat di sepanjang Jl. Bamburuncing sekarang dan di'terima' atau di'pangku' oleh Kelenteng Hok Tik Tong ini. Menurut kepercayaan lama, posisi ini menahan semua pengaruh buruk yang masuk melalui jalan utama tersebut.

A.7. Kompleks Kawedanan Awal dasawarsa 1880an, administrasi pemerintahan menentukan wedana sebagai bawahan bupati, menggantikan demang dari birokrasi Jawa lama. Rupanya kediaman wedana atau kawedanan diletakkan di ujung timur desa Parakan, disiapkan untuk perkembangan selanjutnya, yaitu pembangunan jalan masuk kota yang baru di arah Timur, lurus dari jalan ke Kabupaten melalui Bulu. Bersama dengan perpindahan dari demang ke wedana ini, maka pusat kota bergeser ke arah Timur, di sekeliling kawedanan baru. Pasar (Pasar Lawas), gereja, sekolah dan penjara dibangun di kawasan ini.

Kompleks bangunan kawedanan ini berlanggam Indis, yaitu penyesuaian bangunan Eropa pada iklim tropis Indonesia, tetapi kemudian ditambah dengan bangunan pendapa gaya Jawa pada awal abad ke-20. Beberapa penambahan lain yang agak mengganggu adalah bangunan BKK serta pembangunan taman yang kurang serasi. Setelah terbengkalai bertahun-tahun, sekarang kompleks ini mulai remai digunakan beberapa organisasi kemasyarakatan dengan restu Kabupaten.

A.8. Stasiun Kereta Api Kebijakan kereta api (waktu itu NIS, Nederlandsch-Indie Spoorwegen) telah merencanaan bahwa Jawa bagian Tengah dan Timur, memerlukan tiga jalur perhubungan, yaitu di sisi Utara, Selatan dan Tengah. Sudah saat itu diramalkan bahwa Pulau Jawa akan menjadi nesopolis, kota pulau raksasa, sehingga perhubungan darat akan bertumpu pada kereta api.

Oleh karena itu sedini 1907, sambungan rel telah mencapai Parakan, sebagai cabang jalur Yogya-Semarang, untuk dihubungkan dengan Wonosobo yang merupakan titik ujung jalur Serayu. Sayang sekali semua itu tidak tercapai, bahkan sejak akhir dasawarasa 1970-an kereta api menjadi 'barang asing' bagi masyarakat Kabupaten Temanggung.

Yang tertinggal di Parakan adalah bangunan setasiun beserta jembatan yang dibangun di samping jembatan melintasi Kali Galeh yang lama. Sekarang kegiatan lalu-lintas memusat ke jembatan baru di sisi barat, kelanjutan jalan raya Kedu yang dibangun belakangan.

B. Poros Selatan-Utara

Poros Selatan-Utara menampilkan bukti kejayaan masa lampau kawasan Timur Sumbing-Sindoro. Sudah sejak awal peradaban, kawasan ini didiami oleh masyarakat yang bertumpu pada budi daya padi dan mampu mencapai kekayaan budaya berupa rangkaian candi dan pamujan. Bukan hanya itu, tetapi poros ini juga merupakan bagian dari jalur perhubungan antara pedalaman (Mataram dan Bagelen) dan pesisir (Kendal dan Batang). Jalur ini juga mengarah ke Barat, ke pusat pemujaan Dihyang (Dieng).

B.1. Gandasuli Salah satu prasasti tertu di Indonesia ada di desa ini, di tengah reruntuhan candinya. Keistimewaan lain prasasti ini adalah bahwa bahasa yang digunakan Bahasa Melayu Kuno, yang biasanya digunakan di Sumatera daripada di Jawa. Sudah jelas pusaka ini sangat penting bagi bangsa.

B.2. Situs Andasewu (Watu Ambal) Tahun 1930-an, baru dilaporkan penemuan adanya tangga batu di Desa Tlahap. Sayang sekali temuan ini tidak dianggap penting, sehingga situs ini terlantar, bahkan kemudian sebagian runtuh karena pengaruh alam.

Tangga ini hanyalah bagian dari kompleks pemujaan yang terletak di tempuran atau pertemuan dua sungai, Kali Galeh dan Kali Sibelik. Pertemuan dua sungai selalu dianggap keramat sampai sekarang, bahkan Borobudurpun terletak di pertemuan Sungai Praga dan Sungai Elo. Di sisi atas masih tersisa lahan rata berdinding (teras) dengan dua buah lingga yang masih dipuja sampai sekarang. Kemungkinan besar di bawah tangga panjang ini juga masih ada satu teras pemujaan lagi. (YA/Stl)

Agenda Bappeda